To kaili

Sunday, August 23, 2015

LAPORAN PRAKTEK KERJA PKL III STPP JOGJA



LAPORAN PRAKTEK KERJA PKL III

PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) III OUT CAMPUS
 EVALUASI HASIL KEGIATAN PENYULUHAN TENTANG
 SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO
DI DESA MALANGREJO KECAMATAN BANYUURIP KABUPATEN PURWOREJO PROPINSI JAWA TENGAH











Disusun Oleh :
SUNARDIN
NIREM : 05.1.4.12.0393








KEMENTERIAN PERTANIAN
BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN  SUMBERDAYA MANUSIA PERTANIAN
SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN (STPP) MAGELANG
JURUSAN PENYULUHAN PERTANIAN DI YOGYAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga pembuatan Laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL) III Out Campuss (Praktek Kompetensi Penyuluh Pertanian Penyelia) di desa Malangrejo kecamatan Banyuurip kabupaten Purworejo dapat diselesaikan. Laporan kegiatan ini merupakan bentuk  pertanggungjawaban penulis  terhadap Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang  Jurusan Penyuluhan Pertanian di Yogyakarta. sebagai syarat ke semester 7.
 Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1.      Bapak Drs. Gunawan Yulianto, MM, MSi, selaku Ketua Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang. 
2.      Bapak Dr.Ir.Sujono,MP, selaku Ketua Jurusan Penyuluhan Pertanian di Yogyakarta Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang.
3.      Ibu Ir. Nani Tri Iswardayati, MM.MSi dan Ibu Dr. Rr. Siti Astuti SP.MSc  selaku Dosen Pembimbing Internal I dan II Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang Jurusan Penyuluhan Pertanian di Yogyakarta.
4.      Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) III ini.
Semoga Laporan PKL III ini, dapat memberikan manfaat dalam upaya pengembangan sumberdaya manusia di bidang pertanian.

                                                                                    Yogyakarta, 30 Juni 2015



                 Penulis






DAFTAR ISI
                                                                                                                        Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................
i
DAFTAR ISI ...............................................................................................
ii
DAFTAR TABEL .......................................................................................
iii
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………...
iv
I.
PENDAHULUAN ..........................................................................
1

A.    Latar Belakang ............................................................................
B.    Tujuan ........................................................................................
C.    Manfaat  .....................................................................................
1
2
3
II.
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................
3

A.    Pengertian Sistem Tanam Jajar legowo.........................................
4

Teknik Tanam…………………………………………………..
5

B.     Pelaksanaan sistem tanam Jajar legowo di Purworejo.................
5

C.     Evaluasi.......................................................................................
8

1.      Menetapkan Tujuan Evaluasi................................................
8

2.      Memilih Metode Evaluasi.....................................................
9

3.      Mempersiapkan Instrumen Evaluasi......................................
12

4.      Menetapkan Sampel Sesuai Tujuan Evaluasi.........................
14

5.      Merekap Dan Mentabulasi Data............................................
14

6.      Analisis Data Yang Dikumpulkan.........................................
16

7.      Menetapkan Hasil Evaluasi...................................................
17

8.      Menyusun Laporan Hasil Evaluasi........................................
17
III.
METODA PELAKSANAAN …....................................................
20

A.    Waktu dan Tempat ...................................................................

20


B.    Jenis Data...........................................................................
20

C.    Teknik Pengumpulan Data……………………………………..
20

D.    Subyek Evaluasi…………………………………………………
21

E.     Metode Analisis………………………………………………….
21

F.      Sampel Petani …………………………………………………
21
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………..
23

Identifikasi Potensi Wilayah (IPW)………………………………….

23

A.    Hasil……………………………………………………………..
29

1.      Menetapkan Tujuan Evaluasi................................................

29

2.      Mempersiapkan Instrumen Evaluasi......................................

30

3.      Menetapkan Sampel Sesuai Tujuan Evaluasi.........................

31

4.      Merekap Dan Mentabulasi Data............................................

31

5        Analisis Data Yang Dikumpulkan........................................

31

6        Menetapkan Hasil Evaluasi..................................................

31

7        Menyusun Laporan Hasil Evaluasi.......................................

36

B.     Pembahasan.................................................................................
37

1.      Tingkat Pengetahuan Petani.................................................

37

2.      Tingkat Sikap Petani.............................................................

37

V.
Penutup...............................................................................

39

A.    Kesimpulan.................................................................................
39

B.     Saran............................................................................................

39

DAFTAR PUSTAKA………………………………………….

40








DAFTAR TABEL                                                                                      Halaman
Tabel 1.
Luas Lahan Menurut Penggunaannya.............................
  8
Tabel 2.
Rekapitulasi Potensi ditingkat desa ………………………….
15
Tabel 3.
Rekapitulasi Masalah ditingkat desa.................................
17
Tabel 4
Peringkat masalah dan penyebab masalah…………………….
23
Tabel 5
Analisa hasil  masalah,penyebab dan Potensi desa……………
25
Tabel 6
Potensi agroekositem………………………………………….
28
Tabel 7
Kelembagaan Petani…………………………………………..
29
Tabel 8
Distribusi frekwensi pengetahuan petani…………………….
32
Tabel 9
Distribusi aspek pengetahuan………………………………….
32
Tabel 10
Distribusi frekwensi sikap……………………………………..
33
Tabel 11
Distribusi frekwensi aspek sikap petani…………………….....
34


























I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
 Produk pertanian merupakan kebutuhan primer bagi manusia untuk bertahan hidup karena mayoritas sumber makanan yang mereka konsumsi adalah produk pertanian. Seiring bertambahnya penduduk di Indonesia maka kebutuhan pangan juga semakin meningkat setiap tahunnya, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan produktivitas pertanian saat ini, sehingga untuk mencukupi kebutuhan pangan tersebut maka berbagai upaya dilakukan, salah satunya dengan melakukan impor.Penyebab dari rendahnya produktivitas pertanian di Indonesia saat ini dikarenakan oleh berbagai faktor, salah satunya penggunaan jarak tanam.Para petani kita cenderung menganggap bahwa semakin sempit jarak tanam maka hasil akan semakin banyak karena akan semakin banyak populasi tanaman yang ditanam. (Kementerian Pertanian Badan Litbang Pertanian BPTP Jateng 2014)

 Adanya program terbaru GP-PTT sebagai tindak lanjut dari SL-PTT, yang baru saja dicanangkan pemerintah untuk memotivasi petani alumni SL-PTT agar lebih giat dalam adopsi teknologi yang disuluhkan pada kegiatan SL-PTT, termasuk di dalamnya adalah teknik bertanam Jajar Legowo. Jarak tanam dan sistem tanam yang digunakan, sangat berpengaruh terhadap jumlah populasi rumpun dan akan mempermudah dalam perawatan
Jarak tanam akan berpengaruh terhadap produksi pertanian karena berkaitan dengan ketersediaan unsur hara, cahaya matahari serta ruang atau space bagi tanaman. Teknik penanaman dengan sistem tanam jajar legowo dianggap mampu untuk dijadikan solusi peningkatan produksi padi,sehingga disuluhkan untuk petani pada kegiatan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SL-PTT) pada tahun 2014.
Metode sekolah lapang tersebut bertujuan untuk menambah  pengetahuan dan sikap keterampilan  petani dalam berusaha tani. Setelah SL-PTT selesai perlu dilakukan evaluasi penyuluhan, sejauh mana kegiatan tersebut telah mencapai tujuannya
B.     Tujuan
1.      Tujuan PKL
Agar mahasiswa dapat melakukan evaluasi kegiatan penyuluhan
2.      Tujuan khusus
a.       Mampu menetapkan tujuan pelaksanaan Evaluasi Penyuluhan Pertanian;
b.      Mampu memilih Metode Evaluasi
c.       Mampu mempersiapkan intrumen evaluasi;
d.      Mampu menetapkan sampel sesuai tujuan evaluasi;
e.       Mampu merekap dan menstabulasikan jenis data hasil evaluasi;
f.       Mampu menganalisis data yang dikumpulkan sesuai dengan tujuan evaluasi;
g.      Mampu menetapkan hasil evaluasi;
h.      Mampu menyusun laporan hasil evaluasi sesuai dengan sistematika penulisan laporan ilmiah.
C.    Manfaat
1.      Bagi mahasiswa
a.       Dapat meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas kerja penyuluhan dalam pemberdayaan pelaku utama dan pelaku usaha
b.      Dapat melakukan kerjasama dengan instansi pemerintahan/swasta, pelaku utama dan pelaku usaha serta stakeholder
c.       Dapat berlatih dalam bermasyarakat dengan kondisi sosiokultur yang berbeda.
2.      Bagi lokasi PKL 
a.       Mengenal STPP sebagai penyelenggara pendidikan program Diploma IV Penyuluhan Pertanin
b.      Membantu menyelesaikan tugas/pekerjaan rutin terkait dengan penyuluhan pertanian yang dilakukan instansi, pelaku utama dan pelaku usaha
c.       Menciptakan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan dibidang pembenrdayaan SDM pertanian.
3.      Bagi STPP
a.       Menciptakan SDM Penyuluh Pertanian yang memiliki kompetensi Penyuluh Pertanian Pelaksana Lanjutan.
b.      Memberikan peran serta dalam peningkatan program pemberdayaan petani dan keluarganya.



II.                TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengertian Sistem Tanam Jajar Legowo
Legowo menurut Bahasa Jawa berasal dari kata “Lego” yang berarti luas dan “dowo” yang berarti panjang. Menurut informasi yang diperoleh cara tanam ini pertama kali diperkenalkan oleh Bapak Legowo Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara. (BPTP Jateng)
Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Selain itu sistem tanam tersebut juga memanipulasi lokasi tanaman sehingga seolah-olah tanaman padi dibuat menjadi taping (tanaman pinggir) lebih banyak. Seperti kita ketahui tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan produksi lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena tanaman tepi akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak.
Ada beberapa tipe sistem tanam jajar legowo:
LEGOWOGambar 1. Contoh Sistem Tanam Jajar Legowo
1.      Jajar legowo 2:1.
Ciri dari tajarwo 2:1 adalahb setiap dua baris tanaman padi, harus diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan dan jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan tersebut
2.      Jajar legowo 3:1.
Ciri dari tajarwo 3:1 adalah setiap tiga baris tanaman padi,harus diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan dan jarak tanam barisan pinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.
3.      Jajar legowo 4:1.
Ciri dari tajarwo 4:1 adalah setiap tiga baris tanaman padi harus diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah.
Jumlah peningkatan populasi pada sistem tanam jajar legowo dapat diketahui dengan menggunakan rumus :  100 % X  1 : ( 1 + jumlah legowo).
contoh:
a.       legowo 2:1 peningkatan populasinya adalah :  100%  X  1 : (1 + 2) = 30%
b.       legowo 3:1 peningkatan populasinya adalah :  100%  X  1 : (1 + 3) = 25%
c.       legowo 4:1 peningkatan popuasinya adalah :  100%  X  1 :  (1 + 4) = 20%
d.      legowo 5:1 peningkatan popuasinya adalah :  100%  X  1 :  (1 + 5) =16,6%
(Sumber BPTP-Jateng 2014) 

B.     Pelaksanaan Sistem Tanam Jajar Legowo di Purworejo
1.      Teknik Tanam
Pengolahan tanah bertujuan untuk mengubah bentuk fisik/sifat tanah dan untuk membuang gas-gas beracun yang ada. Pengolahan tanah yang baik dilakukan dengan beberapa model yang disesuaikan dengan jenis tanah dan musim tanam serta saluran drainase atau sumber pengairannya
a.       Model 1 untuk sawah irigasi MT I.
Urutan kerja pembajakan 1 kali bertujuan untuk membalik tanah, lalu penggaruan (rotary), dan perataan tanah 1 kali. Kemudian lahan didiamkan 2-3 hari, barulah lahan siap untuk ditanami
b.      Model 2 untuk sawah irigasi MT II
 Urutan kerja dimulai dari pembenaman jerami, pembajakan 1 kali, kemudian diratakan/ digaru 1 kali, lalu lahan didiamkan 2-3 hari, barulah lahan siap untuk ditanami
c.       Model 3 untuk sawah irigasi/genangan MT II
Urutan kerja diawali dengan pembenaman jerami, pembajakan (rotary), kemudian lahan didiamkan 2-3 hari, setelah itu lahan siap untuk ditanami.
d.      Model 4 untuk sawah Tadah hujan
Urutan kerja untuk sawah tadah hujan sebaiknya dilakukan dengan cara tanam benih langsung atau tabela yang diawali dengan pembajakan menggunakan bajak atau dengan menggunakan cangkul cukup 1 kali perlakuan, lalu diratakan/digaru 1 kali, kemudian didiamkan  2-3 hari, barulah lahan siap untuk ditanami.
Perlakuan lanjutan yang dilakukan setelah pengolahan tanah dari 4 model diatas adalah
1)      Penyemprotan herbisida Sistemik dosis 2-4 L/ha, pada awal MH, Sebarkan bahan organik dan benamkan gulma
2)      Pembajakan menggunakan hand tractor, atau cangkul 1 kali.akan tetapi khusus untuk MT 1 tanah harus di balik, kemudian lahan siap untuk ditanami
3)      Setelah lahan digenangi dan tanah melunak, kemudian lahan dikondisikan dalam keadaan melumpur
4)      Pengalian saluran pinggir untuk drainase
Pembuatan baris tanam dilakukan dengan cara mempersiapkan alat pembuat garis tanam yang tujuannya agar memudahkan dalam penentuan lubang tanam dan kelurusan baris tanaman, ukuran dapat disesuaikan dengan jarak tanam yang dikehendaki, alat ini biasanya dinamakan dengan Caplak. Bahan yang bisa digunakan adalah kayu, bambu, atau  bahan lain yang tersedia serta biayanya terjangkau.
Lahan sawah yang akan ditanami sebaiknya, 1-2 hari sebelum tanam  dilakukan pembuangan air sehingga lahan dalam keadaan macak-macak dan kondisi permukaan tanah diupayakan untuk diratakan dan didatarkan sebaik mungkin. Baru kemudian dilakukan pembentukan garis tanam yang lurus dan jelas dengan cara menarik alat garis tanam yang sudah dipersiapkan sebelumnya serta dibantu dengan tali yang dibentang dari ujung ke ujung lahan, sebaiknya terbentang antara utara dan selatan atau menyesuaikan dengan kondisi lahan.
Bibit padi (anakan) yang akan dipindah kelahan sebaiknya berumur kurang dari 21 hari, dan menanamnya diupayakan 1-3 anakan per lubang tanam, ditanam pada setiap perpotongan garis yang sudah terbentuk, dianjurkan untuk menanam maju agar perpotongan garis untuk lubang tanam bisa terlihat dengan jelas. Namun apabila kebiasaan tanam mundur juga tidak menjadi masalah, yang penting populasi tanaman yang ditanam dapat terpenuhi. Pada alur pinggir kiri dan kanan dari setiap barisan legowo, populasi tanaman ditambah dengan cara menyisipkan tanaman di antara 2 lubang tanam yang tersedia.
Pemupukan sebaiknya dilakukan dengan cara menabur pupuk, dari barisan kosong yang ada diantara 2 barisan legowo. Kemudian pupuk ditabur ke kiri dan ke kanan dengan merata, sehingga 1 kali jalan dapat melakukan pemupukan 2 barisan legowo. Khusus cara pemupukan pada legowo 2 : 1 boleh dengan cara ditabur di tengah alur dalam barisan legowonya.
Penyiangan bisa dilakukan dengan tangan atau dengan menggunakan alat siang seperti landak/gasrok apabila penyiangan dilakukan dengan alat siang, cukup dilakukan ke satu arah, sejajar legowo dan tidak perlu dipotong seperti penyiangan pada cara tanam bujur sangkar. Sisa gulma yang tidak tersiang dengan alat siang di tengah barisan legowo bisa disiang dengan tangan, bahkan sisa gulma pada barisan pinggir legowo sebenarnya tidak perlu diambil karena dengan sendirinya akan kalah persaingan dengan pertumbuhan tanaman padi.
Salah satu penyebab menurunya produksi adalah adanya gangguan hama dan penyait olehnya perlu ada usaha  pengendalian hama dan penyakit misalnya dengan penyemrotan insektisida atau lainnya dengan menggunakan alat semprot atau handsprayer, sebaiknya posisi orang berada pada barisan kosong di antara 2 barisan legowo. Kemudian penyemprotan diarahkan ke kiri dan ke kanan dengan merata, sehingga 1 kali jalan dapat melakukan penyemprotan 2 barisan legowo
Sistem tanam jajar legowo juga memiliki keuntungan dan kelebihan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1)      Semua barisan rumpun  berada pada  bagian pinggir yang memberi hasil lebih tinggi
2)      Tanaman yang  mendapat efek samping  produksinya lebih tinggi dari yang tidak mendapat efek samping.
3)      Dengan adanya ruang kosong mempermudah pemupukan, penyiangan dan pengendalian H/P
4)      Ruang kosong bisa digunakan untuk pengaturan air/mina padi
5)      Produksi lebih tinggi

C.     Evaluasi
1.      Menetapkan Tujuan Pelaksanaan Evaluasi
Arikunto, dkk (2004) mengatakan evaluasi merupakan upaya untuk mengukur ketercapaian program atau kegiatan, yaitu mengukur sejauh mana sebuah kebijakan dapat terimplementasikan, agar pengukuran tujuan dapat diketahui secara cermat dan teliti sampai diketahui sisi positif dan negatifnya, dapat menunjukan bagian mana dari kebijakan yang dapat diimplementasikan dan mana yang tidak dapat diimplementasikan, serta apa penyebabnya maka tujuan evaluasi perlu dirinci.
Ada dua macam tujuan evaluasi, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan pada program secara keseluruhan, sedangkan tujuan khusus diarahkan pada masing-masing komponen. Agar dapat melakukan tugasnya maka seorang evaluator mampu mengenali komponen-komponen program.
Mardikanto (1991) mengatakan bahwa tujuan evaluasi adalah segala informasi yang ingin diketahui dari program yang dievaluasi itu seperti:
a.       Apa yang akan dievaluasi (pelaksanaan program, koordinasi aparat, aktifitas penyuluh, hasil yang dicapai)
b.      Siapa yang akan dijadikan sasaran evaluasi, aparat penentu kebijakan, penyuluh, ataukah kelompok taninya
c.       Sampai seberapa jauh cakupan evaluasi
d.      Adakah pedoman yang sudah diterapkan (baik yang berkaitan dengan kebijakan, petunjuk pelaksanaan ataupun ukuran-ukuran yang digunakan untuk menilai tingkat ketepatan pelaksanaan program dan tingkat keberhasilannya.
e.       Bagaimana hasil evaluasi tersebut dilaporkan (kuantitatif, kualitatif, diseminarkan terlebih dahulu atau tidak).
2.      Memilih Metode Evaluasi
Menurut Ernest R. Alexander dalam Aminudin (2007), metode evaluasi dapat diklasifikasikan menjadi lima yaitu :
a.       Before and after comparisons, metode ini mengkaji suatu obyek penelitian dengan membandingkan antara kondisi sebelum dan kondisi sesudahnya.
b.      Actual versus planned performance comparisons,  metode ini mengkaji suatu obyek penelitian dengan membandingkan kondisi yang ada (aktual) dengan ketetapan perencanaan yang ada (planned)
c.       Experintal (controlled) model, metode yang mengkaji suatu obyek penelitian dengan melakukan percobaan yang terkendali untuk mengetahui kondisi yang diteliti.
d.      Quasi experimental models, merupakan metode yang mengkaji suatu obyek penelitian dengan melakukan percobaan tanpa melakukan pengontrolan/pengendalian terhadap kondisi yang diteliti.
e.       Cost oriented models, metode ini mengkaji suatu obyek penelitian yang hanya berdasarkan pada penilaian biaya terhadap suatu rencana.
Menurut Effendy (2011), evaluasi hasil adalah kegiatan menilai perubahan-perubahan dalam kondisi kehidupan kelompok sasaran, yang diakibatkan oleh program/proyek dan merupakan hasil kegiatan-kegiatan program/proyek. Dalam konteks ini dapat diuraikan bahwa kegiatan evaluasi dampak adalah kegiatan menilai perubahan kondisi kehidupan kelompok sasaran sebagai akibat dari adanya program/proyek, sehingga dapat diketahui apakah proyek itu efektif atau tidak. Evaluasi hasil pada umumnya dilaksanakan setelah kegiatan berakhir dan memiliki jeda waktu misalnya 26 bulan setelah kegiatan. Tujuan evaluasi hasil adalah untuk mengatahui apakah semua input telah diberikan sesuai rencana dan jadwal ataukah tidak? Kemudian apakah tujuan dan sasaran kegiatan telah tercapai ataukah tidak?
Sekolah lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT)   adalah   suatu metode pendidikan non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usahatani, mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergi dan berwawasan lingkungan sehingga usahataninya menjadi efisien
Komponen teknologi unggulan PTT padi adalah
1)      Penggunaan varietas unggul baru (VUB) berlabel yang berdaya hasil tinggi, bernilai ekonomi tinggi.
2)      Pemupukan berimbang dengan penggunaan pupuk secara berimbang dan sesuai kebutuhan tanaman spesifik lokasi.
3)      Penggunaan pupuk organik berupa kompos dan pupuk kandang sebagai penyedia hara dan pembenah tanah.
4)      Penggunaan alat  mesin  ( alsin )  berupa  alat  pra panen dan pasca panen untuk menekan kerusakan hasil.
5)      Pengairan dan pompanisasi dengan pemanfaatan air irigasi, air hujan, embung, sumur pantek, dan sumber air permukaan (sungai danau, sumur buatan).
6)      Penggunaan   benih   bermutu   dengan   varietas unggul akan menghasilkan daya perkecambahan yang tinggi dan seragam, tanaman yang sehat dengan perakaran yang baik, tanaman tumbuh lebih cepat, tahan terhadap hama dan penyakit, berpotensi  hasil  tinggi  dan  mutu  hasil  yang  lebih baik.
7)      Penanaman  yang   tepat   waktu,   serentak   dan jumlah  populasi  yang optimal  dapat  menghindari serangan hama dan penyakit, menekan pertumbuhan gulma, memberikan pertumbuhan tanaman yang sehat dan seragam serta hasil yang tinggi.
8)      Pemberian pupuk secara berimbang berdasarkan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara tanah dengan prinsip tepat jumlah, jenis, cara, dan waktu aplikasi sesuai dengan jenis tanaman akan memberikan pertumbuhan yang baik dan meningkatkan kemampuan tanaman mencapai hasil tinggi.
9)      Pemberian air  pada tanaman secara efektif dan efisien  sesuai dengan kebutuhan  tanaman  dan kondisi tanah merupakan faktor penting bagi pertumbuhan dan hasil tanaman yaitu air sebagai pelarut sekaligus pengangkut hara dari tanah ke bagian tanaman. Kebutuhan akan air disetiap stadia tanaman berbeda-beda, pemberian air secara tepat akan meningkatkan hasil dan menekan terjadinya stres pada tanaman yang diakibatkan karena kekurangan dan kelebihan air.
10)  Perlindungan tanaman dilaksanakan untuk mengantisipasi dan mengendalikan serangan OPT tanaman  dengan meminimalkan kerusakan atau penurunan produksi akibat serangan OPT. Pengendalian dilakukan berdasarkan prinsip dan strategi pengendalian hama terpadu (PHT) Khususnya pengendalian dengan pestisida merupakan pilihan terakhir   bila  serangan OPT berada diatas ambang ekonomi.Penggunaan pestisida harus memperhatikan jenis,  jumlah  dan cara penggunaannya sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku sehingga tidak menimbulkan resurjensi  atau  resistensi  OPT  atau  dampak  lain yang merugikan lingkungan.
11)  Penanganan   panen   dan   pasca   panen   akan memberikan hasil yang optimal jika panen dilakukan pada  umur dan carayang tepat  yaitu tanaman dipanen   pada  masak  fisiologis  berdasarkan umur tanaman, kadar air dan penampakan visual hasil sesuai dengan diskripsi varietas. Pemanenan dilakukan dengan sistem kelompok yang dilengkapi dengan peralatan dan mesin yang cocok sehingga menekan kehilangan hasil. Hasil panen dikemas dalam wadah dan disimpan ditempat penyimpanan yang aman dari OPT dan perusak hasil lainnya sehingga mutu hasil tetap terjaga dan tidak tercecer.
3.      Mempersiapkan Instrument Evaluasi
Menurut Mardikanto (1991) bahwa untuk melakukan pengumpulan data, kegiatan perumusan instrument merupakam salah satu kegiatan terpenting dan sangat sulit dilakukan, sebelum proses pengumpulan data dan fakta dilakukan. Sebab disamping akan sangat menentukan ketepatan dan ketelitian data yang akan diperoleh, kegiatan perumusan instrumen sebenarnya tidak semuda yang digunakan oleh orang-orang yang belum biasa melakukan evaluasi. Untuk merumuskan instrument yang baik, tidak hanya dibutuhkan pengetahuan yang memadai, tetapi dibutuhkan latihan yang cukup.
Beberapa acuan yang perlu diperhatikan dalam merumuskan instrumen adalah sebagai berikut:
a.       Pahami betul tujuan khusus dari kegiatan evaluasi yang akan dilakukan, demikian pula mengenal indikator dan parameter yang akan digunakan, berikut pengukuran atau pemberian nilai skornya.
b.      Untuk menjaga tingkat konsistensi jawaban yang diberikan respondennya, upayakan agar untuk setiap parameter disediakan lebih dari satu pertanyaan, dan pertanyaan yang mirip diletakan tidak berurutan.
c.       Upayakan untuk menggunakan model pertanyaan yang beragam, untuk menjaga agar responden jangan cepat jenuh.
d.      Perhatikan agar jumlah pertayaan tidak terlalu banyak sehingga respondenya tidak jenuh/kelelahan selama memberikan jawabannya
e.       Gunakan bahasa yang mudah dimengerti.
Menurut Arikunto dan Cepi (2004) mengatakan bahwa langkah-langkah yang ditempuh dalam menyusun instrumen evaluasi adalah:
a.       Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan disusun.
b.      Membuat kisi-kisi yang berisi tentang perincian variabel dan jenis instrument yang akan digunakan. Untuk megukur bagian variabel yang bersangkutan ini dikembangkan dari kisi-kisi objek yang akan dievaluasi
c.       Membuat butir-butir instrumen, sesudah kisi-kisi tersusun maka langkah selanjutnya adalah membuat butir-butir instrument
d.      Menyuting instrument, hal yang dilakukan pada tahap ini meliputi:
-       Mengurutkan butir menurut sistimatika yang dikehendaki evaluator untuk mempermudah pengolahan data
-       Menuliskan petunjuk pengisian, identitas dan sebagainya
-       Membuat pengantar permohonan pengisisan bagi angket yang diberikan kepada orang lain.
4.      Menetapkan Sampel Sesuai Tujuan Evaluasi
Menurut Mardikanto (1991) bahwa dalam kegiatan evaluasi seringkali hanya dilakukan terhadap bagian kecil sampel atau contoh dari populasi, dan jarang sekali dilakukan pengumpulan data secara sensus.  Pada dasarnya dikenal ada dua teknik penarikan sampel yaitu secara acak (propability sampling) dan secara piihan atau purposive (non propability sampling) berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan evaluasinya. Akan tetapi untuk menghindari pengaruh subyektifitas pengumpulan data, sebaiknya dilakukan secara acak.
Jumlah sampel yang diambil lebih baik ditentukan dengan berlandaskan pada tingkat keragaman populasi, alat analisis yang akan digunakan, dan tersedianya sumberdaya (dana, tenaga, dan waktu)
5.      Merekap dan Mentabulasi Jenis Data
Merekap dan mentabulasi data dapat dilakukan setelah data terkumpul, baru kemudian dimasukan kedalam kolom tabulasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam pentabulasian adalah instrumen yang mempunyai skala yang sama.
Menurut Wrahatnala (2012) bahwa tabulasi data merupakan proses pengolahan data yang dilakukan dengan cara memasukkan data ke dalam tabel, atau dapat dikatakan bahwa tabulasi data adalah penyajian data dalam bentuk tabel atau daftar untuk memudahkan dalam pengamatan dan evaluasi. Hasil tabulasi data ini dapat menjadi gambaran tentang hasil penelitian, karena data-data yang diperoleh dari lapangan sudah tersusun dan terangkum dalam tabel-tabel yang mudah dipahami maknanya. Selanjutnya peneliti bertugas untuk memberi penjelasan atau keterangan dengan menggunakan kalimat atas data-data yang telah diperoleh.
Tabulasi data dapat dilakukan melalaui dua cara tabulasi sederhana yakni tabulasi   langsung dan dengan menggunakan lembaran kode

a.       Tabulasi Langsung
Maksudnya data langsung ditabulasi dari kuesioner ke dalam tabel yang sudah dipersiapkan tanpa perantara lainnya. Cara ini biasanya dilakukan untuk data yang jumlah responden dan variabelnya sedikit.
b.      Lembaran Kode
Lembaran kode dapat dikerjakan dengan menggunakan fasilitas komputer. Biasanya penabulasian dengan cara ini hanya efisien apabila variabel dan responden yang diteliti sangat banyak.
Jenis tabel yang umumnya dibuat dalam tabulasi data adalah tabel frekuensi dan tabel silang
1)      Tabel frekuensi
Tabel frekuensi adalah  tabel yang menyajikan berapa kali sesuatu hal terjadi. Tabel ini dapat dibedakan atas table frekuensi relatif, yaitu tabel frekuensi yang berisi persentase, dan tabel frekuensi kumulatif, yaitu tabel frekuensi yang berisi angka kumulatif.
2)      Tabel silang
Tabel silang dibuat dengan cara memecah lebih lanjut setiap kesatuan dari setiap kategori menjadi dua atau lebih subkesatuan. Kegunaan pembuatan tabel silang antara lain sebagai berikut.
a)      Menganalisis hubungan-hubungan antarvariabel yang terjadi.
b)      Melihat bagaimana dua atau beberapa variabel berhubungan.
c)      Mangatur data untuk keperluan analisis statistik.
d)     Mengontrol variabel tertentu sehingga dapat dianalisis tentang ada tidaknya hubungan tertentu.
e)      Memeriksa kesalahan-kesalahan dalam kode ataupun jawaban dari daftar pertanyaan.



6.      Analisis Data yang Dikumpulkan
Pada dasarnya, pengolahan data dalam penelitian sosial tidak lepas dari penggunaan metode statistik tertentu. Statistik sangat berperan dalam penelitian, baik dalam penyusunan, perumusan hipotesis, pengembangan alat dan instrumen penelitian, penyusunan rancangan penelitian, penentuan sampel, maupun dalam analisis data.
Arikunto dan Cepi (2004) mengatakan bahwa kegunaan statistik dalam penelitian adalah sebagai berikut:
a.       Alat untuk mengetahui hubungan kausalitas antara dua atau lebih variabel, sehingga dapat diketahui apakah suatu hubungan benar-benar terkait dalam kausalitas atau tidak.
b.      Memberikan teknik-tenik sederhana dalam mengklasifikasikan data dan menyajikan data secara lebih mudah sehingga bisa dimengerti dengan lebih mudah pula.
c.       Membantu peneliti dalam menyimpulkan suatu perbedaan yang diperoleh apakah benar-benar berbeda secara signifikan
d.      Meningkatkan kecermatan peneliti dalam mengambil keputusan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang akan ditarik
e.       Memungkinkan penelitian untuk melakukan kegiatan ilmiah secara lebih ekonomis. Pengolahan data secara statistik pada dasarnya suatu cara mengolah data kuantitatif sederhana, sehingga data penelitian tersebut mempunyai arti. Pengolahan data melalui teknik statistik dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah distribusi frekuensi dan ukuran pemusatan.
1)      Distribusi Frekuensi
Data-data hasil penelitian yang diperoleh di lapangan harus disusun atau diatur lebih lanjut agar mudah dipahami oleh para pembaca dan pihak-pihak yang berkepentingan atau berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Misalnya dengan membuat distribusi frekuensi.

2)      Ukuran pemusatan
Penyusunan dan penyajian data mentah yang berbentuk distribusi frekuensi hanya memberikan gambaran umum. Untuk mendapat ciri khas dalam sebuah nilai bilangan, peneliti dapat menggunakan ukuran pemusatan yang terdiri atas modus, median, dan mean.
a)      Modus
Modus adalah ukuran pemusatan yang menunjukkan frekuensi terbesar pada suatu perangkat data. Data yang berskala nominal hanya bisa dianalisis dengan menggunakan modus. Adapun cara untuk menentukan modus adalah dengan mengurutkan atau menyusun data ke dalam tabel distribusi frekuensi, kemudian kita cari nilai yang paling tinggi frekuensinya.
b)      Median
Median adalah titik tengah yang membagi seluruh bilangan (data) menjadi dua bagian yang sama besar.
c)      Mean (rata-rata hitung)
Mean atau rata-rata hitung adalah nilai bilangan yang berasal dari jumlah keseluruhan nilai bilangan dibagi dengan banyaknya unit atau bilangan.
7.      Menetapkan Hasil Evaluasi
Dalam interprestasi hasil evaluasi yang perlu dipahami adalah mengapa tujuan penyuluhan tidak tercapai, tidak sesuai target, faktor-faktor apa saja yang menghambat dan apa yang memperlancar, serta bagaimana solusinya/saran perbaikanya pada waktu yang akan datang. Hasil evaluasi ini bermanfaat untuk perbaikan program yang akan datang dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan oleh pembuat kebijakan dibidang penyuluhan/pembangunan pertanian. (Deptan 2014)
8.      Menyusun Laporan Hasil Evaluasi
Pada prinsipnya, penulisan laporan evaluasi tidak berbeda dengan penulisan laporan penelitian pada umumnya, baik dalam sistimatika, pokok-pokok isi laporan yang disampaikan, hanya bahasa serta tata tulis yang digunakan lebih popular, mudah dipahami karena pembaca laporan evaluasi lebih berfariasi dalam hal tingkat pendidikan dan pengelaman.
Menurut Arikunto dan Cepi (2004), produk fisik sebuah evaluasi biasanya terlihat pada laporan tertulisnya. Laporan tertulis harus disusun oleh seorang atau tim evaluator, sehingga hasil evaluasinya dapat dipublikasikan dengan baik dan luas kepada orang atau pihak lain. Setiap laporan evaluasi biasanya memuat:
a.       Permasalahan
b.      Metode evaluasi
c.       Hasil evaluasi
d.      Kesimpulan atas hasil evaluasi.
Format/sistimatika Laporan Evaluasi Penyuluhan dalam prakteknya dapat diadaptasikan sesuai kebutuhan lembaga/di lapangan dan maksud/tujuan dari evaluasi itu sendiri, tetapi secara umum dapat dipaparkan sebagai berikut:
1)      Kata Pengantar, Daftar Isi, Pengesahan Laporan
2)      Pendahuluan, yang memuat uraian yang singkat dan cukup jelas mengenai
a)      Latar belakang atau alasan dilakukannya evaluasi, sasaran/obyek evaluasi
b)      Masalah dan tujuan evaluasi
c)      Kegunaan evaluasi
3)      Landasan-landasan teori dan konsep-konsep yang digunakan dalam pelaksanaan evaluasi
4)      Indikator dan parameter, serta pengukuranya.
5)      Rancangan evaluasi yang mencakup :
a)      Populasi dan sampel, berikut penjelasan teknik penarikan sampel
b)      Rincian data yang dikumpulkan
c)      Teknik pengumpulan data
d)     Insterumen evaluasi (bisa disampaikan dalam bentuk lampiran)
e)      Uji ketepatan dan ketelitian instrument evaluasi
f)       Analisis data
6)      Gambaran umum tentang pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang dievaluasi
7)      Hasil-hasil evaluasi dan pembahasan : tampilan dalam bentuk grafik, gambar, tabel, dansebagainya. Kesimpulan dan saran-saran/rekomendasi
8)      Daftar pustaka
9)      Lampiran-lampiran.






III.             METODA PELAKSANAAN

A.    Waktu dan Tempat
1.      Waktu
Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) III dilaksanakan dari  tanggal 1 Mei s/d   30 Juni 2015.
2.      Tempat
Praktek Kerja Lapangan (PKL) III dilaksanakan Di Desa Malangrejo Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo Propinsi Jawa Tengah.
B.     Sumber data
1.      Primer
Data primer merupakan data yang langsung diambil dari petani. Petani yang dimaksud adalah petani peserta SL Padi dengan teknik tanam Jajar Legowo
2.      Sekunder
Data sekunder adalah data yang telah diolah, dan didokumentasikan diinstansi baik ditingkat desa maupun kecamatan
C.    Teknik Pengumpulan Data
1.      Teknik wawancara menggunakan kuesioner digunakan evaluator untuk mengumpulkan data dengan bertanya melalui angket kepada responden dengan jawaban yag ditentukan oleh evaluator
2.      Teknik FGD digunakan evaluator untuk mengumpulkan data kualitatif dengan bertanya kepada responden dan tokoh kunci melalui diskusi terfokus (FGD) tingkat Gapoktan
3.      Teknik pencatatan adalah pengumpulan data dengan mencatat semua data primer maupun sekunder yang diperoleh dari petani, dinas, dan instansi terkait sesuai dengan data-data yang dibutuhkan


D.    Jenis Data
   Jenis data yang diambil dalam evaluasi ini adalah
1.      Data primer diambil langsung dari responden dengan menggunakan kuesioner berupa data kuantitatif berupa jumlah anggota kelompok tani alumni SL-PTT
2.      Data sekunder diperoleh melalui pencatatan dari sumber informasi atau sumber data yang ada hubungannya dengan evaluasi hasil kegiatan SL-PTT padi sawah seperti Laporan Kegiatan SL- PTT
E.     Subyek Evaluasi
Evaluasi hasil Pelaksanaan SL-PTT Padi Sawah difokuskan pada variabel yang akan dievaluasi yaitu:
1.      Pengetahuan Responden
2.      Sikap responden
F.     Metode Analisis
Metode analisis data menggunakan metode deskriptif untuk membuat deskipsi, gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai mengenai hasil dari penyuluhan Jajar Tanam Legowo dalam hal pengetahuan dan sikap petani.
G.    Sampel Petani
Petani yang dievaluasi adalah petani peserta SL Padi dan atau alumni kegiatan  SL teknik bertanam Jajar Legowo, sebagai saampel diambil dengan cara penunjukan langsung sebanyak 20 orang petani yang berasal dari beberapa kelompok tani yang ada di desa Malangrejo. Dengan cara memisahkan antara anggota dan pengurus kelompok kemudian ditunjuk langsung oleh salah satu pengurus kelompok untuk mewakili kelompok menjadi resonden dengan perbandingan tiga orang dari anggota dan dua orang dari pengurus
H.    Instrument Pengambilan Data
Instrument pengambilan data, didesain terdiri dari dua aspek yaitu tingkat pengetahuan dan sikap Petani. Sedangkan aspek keterampilan belum dapat dilakukan evaluasi karena keterbatasan waktu dan dana yang tersedia. Instrument ini diidentifikasi berdasarkan tujuan kegiatan SL-PTT padi sawah yang telah ditetapkan pada petunjuk teknis SL-PTT padi sawah oleh Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo tahun 2014.
Dimana teknologi unggulan PTT yang dianjurkan sebagaimana tersebut dibawah ini:
1.      Penanaman benih Varietas Unggul
2.      Penggunaan benih bermutu, bersih, sehat, bernas (berlabel)
3.      Peningkatan populasi tanaman dengan mengunakan sistem tanam jajar legowo
4.      Penanaman bibit muda (<21 hari) serta penanaman bibit 1-3 bibit per lubang
5.      Pemberian pupuk organik pada tanaman 2 ton/ha
6.      Pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan rekomendasi setempat
7.      Pengairan secara efektif dan efisien
8.      Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu
9.      Pengendalian gulma secara terpadu
10.  Penanganan proses panen da pasca panen
Aspek-aspek yang dievaluasi dalam kegiatan ini dijabarkan pada kisi-kisi instrumen meliputi:  variabel, indikator, standar, dan kriteriea (dapat dilihat pada lampiran 1). Sedangkan kuesioner pertayaan kepada respon dibuat secara terpisah (dapat dilihat pada lampiran 2)














IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
1.      Identifikasi Potensi Wilayah (IPW)
Desa Malangrejo merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo dengan jarak ± 3 km, dari kota kecamatan,sedangkan jarak dari ibu kota kabupaten ± 7 Km dengan waktu tempuh ± 15 menit dengan kendaraan umum.
Batas – batas wilayah desa Malangrejo adalah sebagai berikut :
-          Sebelah timur berbatasan dengan Desa Surorejo
-          Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sumbersari dan Desa Banyuurip
-          Sebelah barat berbatasan dengan Desa Tegal kuning
-          Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bencorejo dan Desa Triwarno
Desa Malangrejo memiliki iklim tropis dengan dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau dengan suhu rata – rata tertinggi adalah 27ºC - 32ºC, Suhu rata – rata terendah adalah 20ºC - 25ºC ,dengan kelembaban rata – rata 70 -90 %, curah hujan rata – rata 2,643 mm/tahun, dengan ketinggian tempat antara  12 m diatas permukaan laut.
a.      Luas Lahan Menurut Penggunaannya
Menurut penggunaannya lahan di desa Malangrejo adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Luas Tanah menurut kegunaannya Desa Malangrejo
No
Nama Desa
Tanah Darat (ha)
Tanah Sawah
irigasi(ha)
Kolam (ha)
Tegalan
Pekarangan
Sawah
½ Teknis
Jumlah

Malangrejo
6
67,5
99
99
-
173
               Sumber : Rancangan RPJMDes  Malangrejo  2015
Tabel 1. menjelaskan bahwa Desa Malangrejo mempunyai luas tegalan  6 (ha), pekarangan 67,5 (ha), tanah sawah irigasi setengah teknis 99 (ha).
b.      Rekapitulasi Potensi  Desa Malangrejo Secara Umum
Tabel 2. Rekapitulasi Potensi  Desa Malangrejo
Aspek
Potensi
Desa
Desa Malangrejo
Luas Lahan/ Jumlah /unit
Sumber daya Alam
Luas Lahan
Sawah
99

Pekarangan & Banguan
67,5
Sumber Daya Manusia
Jumlah kelompok Tani
4
Kelembagaan Sistem Dan Usaha Agribisnis
Kelompok Tani  :
Malangrejo

1.    Pemula
4

2.    Lanjut
-

3.    Madya
-
Sumber: data primer mahasiswa pendampingan Program Pajale
Tabel 2.Menjelaskan tentang potensi yang ada di Desa Malangrejo dilihat dari aspek sumberdaya alam,sumberdaya manusia pertanian, kelembagaan dan sistem usaha agribisnisnya berupa luas lahan sawah ½ teknis 99 Ha, pekarangan 67,5 Ha,jumlah kelompok tani dan tingkat kelas kelompok. Yang menyebar di 4 pedukuhan yang ada didesa Malangrejo.





c.       Rekapitulasi Masalah di Tingkat Desa Malangrejo
Tabel 3. Rekapitulasi Masalah di Tingkat Desa Malangrejo
Aspek
Masalah
Di Desa Malangrejo
1
2
Sumberdaya Manusia
1.     PSK Petani
2.     Kemauan dan minat petani
Sumberdaya Alam


1.     Pemanfaatan lahan untuk pertanian
2.     Pemanfaatan air untuk Sawah 1/2 teknis
Kelembagaan dan sistem usaha pertanian
1.     Pengetahuan tugas, fungsi pengurus
dan peran anggota Gapoktan masih rendah
2.     Kerjasama pengurus sangat kurang
Sarana prasarana dan sistem usaha pertanian
1.     Kurangnya pasokan air irigasi pada MT II
2.     Kemampuan kelompok tani
dalam pemasaran hasil masih rendah
3.     Kemitraan belum bisa berjalan dengan baik
4.     Kurangnya Alsintan bagi petani
Sumber: data primer mahasiswa pendampingan Program Pajale
Pada Tabel 3 menjelaskan rekapitulasi masalah di tingkat desa Malangrejo, dilihat dari segi aspek sumber daya manusia dengan masalah PSK petani, kemauan dan minat petani. Dari aspek sumber daya alam dengan masalah pemanfaatan lahan pertanian dan pemanfaatan air, Dari aspek Kelembagaan pengetahuan tugas, fungsi pengurus dan peran anggota Gapoktan masih rendah dan di aspek sarana dan prasarana dan sistem usaha pertanian dengan masalah kemampuan kelompok tani dalam pemasaran hasil masih rendah, dan kemitraan belum bisa berjalan dengan baik


d.      Peringkat Masalah Dan Faktor Penyebab Masalah Di Tingkat Desa Malangrejo
Tabel 4. Peringkat Masalah dan faktor penyebab masalah di tingkat desa
Aspek
Peringkat Masalah
Faktor Penyebab
Keterangan
Sumberdaya  Manusia
1.      PSK Petani
2.      Kemauan dan minat petani
1.      Rendahnya Pendidikan.
2.      Teknologi baru agak sulit diterima petani
3.      Kebiasaaan lama yang masih sulit ditinggalkan
1. PSK Petani
2.Kemauan dan minat petani
Kelembagaan dan sistem usaha pertanian
1.   Pengetauan dan tugas pengurus kelompok tani

2.   Kerja sama dalam pengurus 



1.      Pengetahuan tugas, fungsi pengurus dan peran anggota Gapoktan masih rendah
2.      Kerja sama pengurus sangat kurang
1.      Pengurus belum tahu tugas, fungsinya sebagai penggurus dan peran anggota pengurus
2.      belum adanya kerjasama dalam kepengurusan
Sarana prasarana dan sistem usaha pertanian
1.      Kurangnya pasokan air irigasi pada setiap musim tanam
2.      Kemitraan

1.      Banyaknya irigasi tersier yang rusak, dan kurangnya pasokan air dari DI Kedung Putri
2.      Kemampuan kelompok tani dalam pemasaran hasil masih rendah

1.      Wilayah Kecamatan banyuurip merupaan wilayah Daerah Irigasi (DI) Kedung putri pada BKK 6

Sumber: data primer mahasiswa pendampingan Program Pajale
Tabel 4 menjelaskan peringkat masalah dan faktor penyebab tingkat  Desa Malangrejo dan Bencorjo dari aspek sumber daya alam dengan peringkat masalah Pengetahuan Sikap dan Keterampilan (PSK) petani, kemauan dan minat petani
e.       Analisa Hasil Masalah, Penyebab Dan Potensi Di Tingkat Desa Malangrejo
Tabel 5..Analisa Hasil di Tingkat Desa Malangrejo
Aspek
Peringkat Masalah
Faktor Penyebab Masalah
Potensi
Sumberdaya Manusia
(SDM)
1.      PSK Petani
2.      Kemauan
       dan minat petani
1.      Rendahnya pendidikan petani
2.      Teknologi baru agak sulit diterima petani
1.      Pendidikan
2.      Jumlah Penduduk
3.      Mata Pencaharian

Sumberdaya alam
(SDA)
1.     Pemanfaatan
Lahan untuk pertanian
2.     Pemanfaatan air untuk Sawah 1/2 teknis
3.     KATAM     Kalender Musim Tanam
1.      perubahan musim yang akan mengganggu perubahan tanam yang menggunakan KATAM
1.      Luas Lahan,
2.      Iklim
3.      Curah Hujan
4.      Sumber air

Kelembagaan sistem dan usaha agribisnis
1.    Pengetahuan
 tugas,fungsi pengurus dan
peran anggota Gapoktan masih rendah
2.    Kerjasama
pengurus sangat kurang
1.      Pengetahuan tugas, fungsi pengurus dan peran anggota Gapoktan masih rendah
2.      Kerja sama pengurus sangat kurang
1.      Kelompok Tani
2.      Gapoktan
3.      LPM
4.      RT
5.      RW
Sarana dan sarana sistem dan usaha agribisnis
1.      Kurangnya pasokan air irigasi pada setiap musim tanam
2.      Kemitraan

1.      Banyaknya irigasi tersier yang rusak, dan kurangnya pasokan air dari DI Kedung Putri
2.      Kemampuan kelompok tani dalam pemasaran hasil masih rendah
3.     Kemitraan belum berjalan dengan baik
1.      Adanya sumber air (kali Progo) yang besar dikabupaten Purworejo
2.      Alsintan
3.      Sarana prasarana perekonomian
.
Sumber: data primer mahasiswa pendampingan Program Pajale
Tabel 5 menjelaskan hasil analisa, peringkat masalah dan penyebab masalah serta  potensi yang tersedia, untuk membantu penyelesaian masalah dilihat dari 4 aspek yakni sumber daya manusia, sumber daya alam, kelembagaan usaha agribisnis, dan sarana prasarana penunjang agribisnis.
f.       Potensi Agroekosistem
Tabel 6. Potensi Agroekosistem  desa Malangrejo
No.
Nama Desa
Jenis
Usahatani
(pada lahan)
Jumlah luas tanam (Ha)
Produksi ditingkat Kec. Kwintal
Produktivitas
Kwintal

Malangrejo
Sawah
198
61,2
12,117,6
Sumber : Rencana Kerja Tahunan Penyuluh tahun 2015
Tabel 6 menjelaskan bahwa luas usaha tani padi sawah pada lahan yang ada di Desa Malangrejo,  adalah seluas 198 Ha dari 2 kali musim tanam dalam setahun, dengan jumlah produksi mencapai 61,2 Kwintal dengan produktivitas 12,117,6 Kwintal

g.      Kelembagaan Petani
Tabel 7. Jumlah Kelembagaan di Desa Malangrejo
No
Nama Desa
Jml Kelompok Tani
Jumlah Kelompok Tani
Tani Dewasa
Tani Wanita
Taruna Tani
Jml Kelp.
Jml. Angg.
Jml Kelp.
Jml.Angg.
Jml Kelp.
Jml. Angg.
1.
Malangrejo
4
5
-
1
-
-
-
                  Sumber : Programa BPK kecamatan (masih dalam tahap registrasi ulang)
Berdasarkan tabel 7 menjelaskan bahwa di Desa Malangrejo jumlah kelompok tani sebanyak 5 kelompok tani untuk desa malangrejo data kelembagaann kelompok ini masih dalam tahapan registrasi ulang.
2.      Hasil Kegiatan Evaluasi
a.      Menetapkan tujuan pelaksanaan evaluasi
1)      Menentukan kegiatan yang akan di evaluasi,
-          Setelah melihat dan mempelajari laporan kegiatan SL-PTT yang salah satu kegiatannya adalah penambahan populasi tanaman melalui penerapan sistem tanam jajar legowo
-          Setelah melihat dari programa kecamatan dan rancangan programa desa dapat ditemukan permasalahan yang dihadapi petani yakni masih kurangnya penerapan petani terhadap prinsip PTT termasuk menggunakan sistem tanam jajar legowo.
-          Melakukan pertemuan/diskusi/wawancara dengan penyuluh sehingga permasalahan tersebut dapat diangkat untuk dijadikan bahan kegiatan evaluasi,
2)      Menentukan waktu dan tempat/lokasi evaluasi,
Waktu dan tempat kegiatan evaluasi dipilih dari kelompok tani alumni SLPTT padi yang ada di desa malangrejo terdiri dari 4 kelompok tani yakni Rekso Rumekso, Marsudi Mulyo,Sidodadi, dan Gotong royong.
3)      Menentukan materi kegiatan evaluasi
Sesuai dengan petunjuk teknis SL-PTT yakni masih kurangnya minat petani untiuk menerapkan prinsip PTT dan belum meratannya petani menggunakan sistem tanam jajar legowo, maka yang akan diangkat untuk menjadi materi kegiatan evaluasi adalah dari aspek pengetahuan dan sikap petani terhadap sistem tanam jajar legowo sedangkan untuk aspek keterampilan belum bisa dilakukan evaluasi karena keterbatasan waktu dan dana.
4)      Menentukan siapa yang jadi sasaran evaluasi.
Yang menjadi sasaran evaluasi adalah Petani alumni SLPTT dari 4 kelompok tani,yang ada di desa malangrejo jadi terdapat 100 orang petani yang kemudian dipilih secara random proporsional yang terdiri dari anggota dan pengurus kelompok tani.
5)      Menentukan standar atau ukuran-ukuran yang akan digunakan dalam melakukan evaluasi dengan cara membaca pedoman dari kegiatan sistem tanam jajar legowo dan rdari reverensi yang ada (BPTP Jateng)
6)      Merumuskan tujuan kegiatan evaluasi
Tujuan kegiatan evaluasi adalah mengukur tingkat pengetahuan,sikap dan ketermpilan petani terhadap sistem tanam jajar legowo.
b.      Mempersiapkan Instrument Evaluasi
1)      menetapkan variabel
2)      mendiskripsikan variable
3)      buat kisi-kisi
4)      buat standar
5)      menetapkan skala
6)      membuat pertanyaan
c.       Menetapkan dan Mentabulasi Jenis Data Hasil Evaluasi
1)      Menyusun tabulasi sesuai dengan kondisi pertanyaan
2)      Menginput perolehan data
3)      Menghitung dalam jumlah %
4)      Menyimpulkan
d.      Menganalisis data yang dikumpulkan
Langkah-langkah kegiatan
1)      Data dianalisis atau di olah dengan bantuan statistik deskritif.
2)      Pada tabulasi perhitungan statistik deskritif yang dilakukan adalah distribusi frekuensi, frekuensi relatif.
e.       Menetapkan Hasil Evaluasi
1)      Pengetahuan petani dibagi menjadi 5 kategori yaitu kategori sangat mengetahui, 
Cukup mengetahui, Mengetahui, kurang mengetahui dan tidak mengetahui berdasarkan jumlah nilai yang diperoleh masing-masing responden dalam bentuk prosen. Prosentase nilai kategori sangat mengetahui dengan kriteria 84,00 – 100. Kategori mengetahui dengan kriteria 68,00 – 83,99 . Kategori ragu-ragu dengan kriteria 52,00 – 67,99 kategori kurang mengetahui dengan kriteria 36,00 – 51,99 sedangkan kategori tidak mengetahui dengan kriteria 20, 00 – 35,99. Disrtibusi frekuensi pengetahuan dan aspek pengetahuan dapat dilihat pada tabel 9 dan 10 dibawah ini.







No
Kategori Pengetahuan
Singkatan
Kriteria
Jumlah
Persentase
1
Sangat Mengetahui
SM
52 - 67.99
0
0.00
2
Cukup Mengetahui
CM
52 - 67.99
0
0.00
3
Mengetahui
M
52 - 67.99
6
100.00
4
Kurang Mengetahui
KM
36 - 51.99
0
0.00
5
Tidak Mengetahui
TM
20 - 35.99
0
0.00

Jumah


6
100.00
Tebel 8. Distribusi frekuensi Pengetahuan dari 6 pertanyaan
 Keterangan :
-          Jumlah nilai tertinggi 67.99 dan terendah 20
No
Kategori Pengetahuan
Singkatan
Kriteria
Jumlah
Persentase
1
Sangat Mengetahui
SM
84 - 100
0
0.00
2
Cukup Mengetahui
CM
68 - 83.99
2
10.00
3
Mengetahui
M
52 - 67.99
16
80.00
4
Kurang Mengetahui
KM
36 - 51.99
2
10.00
5
Tidak Mengetahui
TM
20 - 35.99
0
0.00

Jumah


20
100.00
-          Kriteria berdasarkan prosentese jumlah nilai yang diperoleh setiap responden
Tabel 9. Distribusi frekuensi aspek pengetahuan dari 20 responden
Keterangan :
-          Jumlah nilai tertinggi 100 dan terendah 20
-          Kriteria berdasarkan prosentese jumlah nilai yang diperoleh dari setiap butir pertayaan
2)      Sikap petani dibagi menjadi 5 kategori yaitu kategori sangat membutuhkan, cukup membutuhkan, membutuhkan, kurang membutuhkan,dan tidak membutuhkan  berdasarkan jumlah nilai yang diperoleh masing-masing responden dalam bentuk. Prosentase nilai kategori sangat membutuhkan dengan kriteria 84 - 100. Kategori cukup membutuhkan dengan kriteria 68 - 83,99. kategori Membutuhkan dengan kriteria 52 - 67,99. Kategori kurang membutuhkan dengan kriteria 36 - 51,99 sedangkan kategori tidak membutuhkan dengan Kriteria 20-35,99. Disrtibusi frekuensi sikap dan aspek sikap dapat dilihat pada tabel 11 dan 12 dibawah ini.
Tabel 10. Distribusi frekuensi sikap dari 5 pertanyaan
No
Kategori Sikap
Singkatan
Kriteria
Jumlah
Persentase
1
Sangat Membutuhkan
SM
52 - 67.99
0
0.00
2
Cukup Membutuhkan
CM
52 - 67.99
0
0.00
3
Membutuhkan
M
52 - 67.99
5
100.00
4
kurang Membutukan
KM
36 - 51.99
0
0.00
5
Tidak Membutuhkan
TM
20 - 35.99
0
0.00

Jumah


5
100.00
Keterangan :
-          Jumlah nilai tertinggi 67.99 dan terendah 20
-          Kriteria berdasarkan prosentese jumlah nilai yang diperoleh dari setiap responden





No
Kategori Sikap
Singkatan
Kriteria
Jumlah
Persentase
1
Sangat Membutuhkan
SM
84 - 100
0
0.00
2
Cukup Membutuhkan
CM
68 - 83.99
6
30.00
3
Membutuhkan
M
52 - 67.99
12
60.00
4
kurang Membutukan
KM
36 - 51.99
2
10.00
5
Tidak Membutuhkan
TM
20 - 35.99
0
0.00

Jumah


20
100.00
Tabel 11. Distribusi frekuensi aspek sikap dari 20 responden
Keterangan :
-          Jumlah nilai tertinggi 100 dan terendah 20
-          Kriteria berdasarkan prosentese jumlah nilai yang diperoleh dari setiap butir pertanyaan.
3)      Narasi Hasil Evaluasi
a.       Interpretasi terhadap hasil analisis
b.      Hasil evaluasi yang ditetapkan adalah : 80 % petani mengetahui sistem tanam jajar legowo dan 80 % petani menerima teknologi tersebut.
c.       Penjelasan hasil analisis adalah sebagai berikut:
-          Pada tabel 8. Tingkat pengetahuan petani terhadap materi yang disampaikan pada sistem tanam jajar legowo padi sawah dari 6 pertanyaan berada pada kategori  mengetahui dengan kriteria 52 - 67.99 dan jumlah frekuensi 16 orang atau sama dengan 80 % frekuensi relative.
-          Pada tabel 9. Distribusi aspek pengetahuan dari 20 responden, aspek pengetahuan petani berada pada kategori mengetahui dengan kriteria  52 - 67.99 dan jumlah frekuensi 6 atau sama dengan 100 % frekuensi relative
-          Pada tabel 10. Distribusi sikap dari 5 pertanyaan, penerimaan petani terhadap teknologi yang disampaikan pada sistem tanam jajar legowo padi adalah berada pada kategori membutuhkan dengan kriteria 52 - 67.99 dan jumlah frekuensi 12 atau sama dengan 60 % frekuensi relative
-          Pada tabel 11. Distribusi aspek sikap dari 20 responden, aspek sikap petani berada pada kategori sangat membutuhkan dengan kriteria 52 - 67.99 dan jumlah frekuensi 5 atau sama dengan 100 % frekuensi relative
d.      Kesimpulan evaluasi
Dari hasil evaluasi ini dapat disimpulkan bahwa tujuan penyuluhan pertanian yang disampaikan lewat kegiatan sistem tanam jajar legowo padi sawah di desa malangrejo sudah tercapai dari aspek pengetahuan, dan aspek sikap sedangkan aspek keterampilan, perlu waktu lain untuk praktikan dapat mengevaluasinya karena perlu waktu dan dana yang lebih untuk melakukan praktek langsung untuk menjajak keterampilan Petani responden.
Hal ini disebabkan oleh petani peserta sistem tanam jajar legowo adalah petani pemilik lahan dan penggarap yang terlibat langsung dilahan pada setiap tahapan budidaya, walaupun ada sebagian kecil yang lahan sawah penggarapnya adalah buruh-buruh tani yang tidak terlibat pada kegiatan sistem tanam jajar legowo tersebut.


f.       Menyusun Laporan Evaluasi Sesuai dengan Sistimatika Penulisan
1)      Penjelasan adanya permasalahan yang ingin dipecakan atau di jawab dalam evaluasi ini. Penjelasn ini di muat dalam bab pendahuluan yang mencakup bagaimana rumusan masalahnya, latar belakang mengapa masalah tersebut dipilih untuk dievaluasi, tujuan yang ingin dicapai dalam masalah tersebut dan tinjauan teori atau kepustakaan.
2)      Penjelasan tentang aspek metodologis yang berisi pendekatan evaluasi yang digunakan, tahapan-tahapan evaluasi dan teknik untuk mencapai standar
3)      Menyajikan hasil evaluasi dari hasil pengolahan dan analisis
4)      Menarik kesimpulan atas dasar hasil evaluasi
5)      Membuat kerangka atau outline laporan yang bersikan :
-          BAB I         : Pendahuluan
-          BAB II       : Pembahasan Kepustakaan
-          BAB III      : Metodologi Evaliasi
-          BAB IV      : Hasil-hasil evaluasi
-          BAB V       : Pembahasan Hasil Evaluasi
-          BAB VI      : Kesimpulan dan Saran










B.     Pembahasan
Dari analisis data yang diolah dan tabulasi perhitungan statistik deskritif dapat diketahui :
1.      Tingkat Pengetahuan Petani
Tingkat ketercapaian atau keberhasilan pada kegiatan penyuluhan yang disampaikan pada sistem tanam jajar legowo padi sawah dari segi pengetahuan telah tercapai 90 %. Hal ini terlihat dari :
a.       Kemampuan menjawab pertayaan
b.      Kemampuan responden dalam menjawab 6 butir pertanyaan (soal) yang diketahui responden, pertanyaan yang diketahui terbanyak aspek pengetahuan petani berada pada kategori mengetahui dengan kriteria 52 - 67.99 dan jumlah frekuensi 16 orang atau sama dengan 80 % frekuensi relative. Sedangkan jumlah responden terbanyak kedua berada pada kategori cukup mengetahui dan kurang mengetahui  dengan kriteria 68 - 83,99 dan  36 -51.99 dengan jumlah frekuaesi 2 orang atau sama dengan 10 %.
c.       Rentang nilai yang diperoleh
Rentang nilai yang diperoleh pada evaluasi terhadap materi yang disampaikan pada sistem tanam jajar legowo padi sawah dari 20 responden berada pada kategori sangat mengetahui dengan kriteria  84,00 – 100 dan jumlah frekuensi 6 atau sama dengan 100 % frekuensi relative
2.      Tingkat sikap petani
Tingkat ketercapaian atau keberhasilan pada kegiatan penyuluhan yang disampaikan pada sistem tanam jajar legowopadi sawah dari segi penerimaan atau sikap telah tercapai 80 %. Hal ini terlihat dari :
a.       Kemampuan menjawab pertayaan
Kemampuan responden dalam menjawab 5 butir pertayaan (soal) yang diketahui responden, berada pada kategori membutuhkan dengan kriteria 52 - 67.99 dan jumlah frekuensi 12 atau sama dengan 60 % frekuensi relative. Sedangkan jumlah responden terbanyak kedua berada pada kategori cukup membutuhkan dengan kriteria 68 - 83,99 dengan jumlah frekuaesi 6 orang atau sama dengan 30 %.
b.      Rentang nilai yang diperoleh
Rentang nilai yang diperoleh pada evaluasi terhadap materi yang disampaikan pada sistem tanam jajar legowo padi sawah dari 20 responden berada pada kategori Membutuhkan  dengan kriteria 52 - 67.99 dan jumlah frekuensi 5 atau sama dengan 100 % frekuensi relative.




V.                PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan evaluasi ini dapat disimpulkan :
1.      Tingkat ketercapaian atau keberhasilan kegiatan penyuluhan pertanian yang dilakukan melalui sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu padi sawah khususnya pada sistem tanam Jajar legowo oleh penyuluh pertanian di BPP Kecamatan Banyuurip di Desa Malangrejo dari tingkat pengetahuan telah tercapai 90 %.
2.      Dari tingkat penerimaan atau sikap petani telah tercapai 80 %.
3.      Sedangkan untuk tingkat Keterampilan belum dilakukan evaluasi..  
B.     Saran
1.      Diharapkan agar dalam kegiatan penyuluhan pertanian di Desa Malangrejo Kecamatan Banyuurip kedepan lebih difokuskan pada kegiatan praktek bersama atau pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan penerimaan (sikap) serta keterampilan petani sehingga teknologi yang disampaikan dapat diterapkan oleh petani secara maksimal.
2.      Diharapkan agar kelompok tani dapat merencanakan untuk melakukan kegiatan pelatihan atau penyuluhan dengan metode demonstrasi cara sehingga dapat meningkatkan keterampilan anggota poktan dalam teknologi budidaya padi.
3.      Kedepannya diharapkan ada waktu dan dana yang cukup untuk melakukan evaluasi secara keseluruhan dari PSK petani hingga ke tingkat Adopsi teknologi









DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, dan Cepi ,SAJ. 2004.Evaluasi Program Pendidikan. Sinar grafika:Jakarta.etd.repository.ugm.ac.id/.../67101/.../S2-2014-343848-bibliography.pdf (diakses tanggal 8 juni 2015)
Tim BPTP Jateng.2014 Petunjuk Sistem Tanam Jajar Legowo
Video CD. Penyuluhan.Jawa Tengah:BPTP
Tim STPP 2015.Modul Modul Pendampingan Program Upsus Yogyakarta: kementerian Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian.Yogyakarta: STPP
-------- 2015.Petunjuk Teknis  Pengujian Teknologi Program Upsus. Yogyakarta: Kementerian Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. Yogyakarta: STPP
















No comments:

apa yang anda cari ?