To kaili

Wednesday, January 21, 2015

Laporan Praktikum bentuk fisik buah ALat dan Mesin Pertanian

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahan hasil pertanian mempunyai bentuk dan ukuran yang tidak seragam, maka dari itu diperlukan ilmu untuk mengukur dan menganalisa bentuk dan ukuran bahan hasil pertanian untuk mengklasifikasinya kedalam keseragaman bentuk.
Karakteristik dari suatu bahan hasil pertanian sangat penting untuk klasifikasi standar bentuk dan ukuran.oleh karena itu dibuatlah suatu standar yang telah disepakati bersama untuk mempermudah penanganan dan pengolahan produk tersebut. Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menjelaskan bentuk dan ukuran bahan hasil pertanian, yaitu: bentuk acuan, kebundaran, kebulatan, dimensi sumbu bahan, serta kemiripan bahan hasil pertanian terhadap benda geometri tertentu.
Ilmu untuk mengklasifikasikan bahan hasil pertanian sangat penting bagi calon / sarjana teknik pertanian, karena itu sangat berperan aktif dalam peningkatan mutu dan kualitas bahan hasil pertanian yang akan di olah pada proses berikutnya.
Karakteristik fisik hasil pertanian akan mempengaruhi bentuk dan ukuran berat atau volume.
Konsumen tertentu memiliki penerimaan (aseptabilitas) tertentu mempertimbangkan karakteristik fisik. Bentuk dan ukuran berat dan warna yang seragam menjadi pilihan konsumen. Untuk mencegah kerusakan seminimal mungkin, diperlukan pengetahuan tentang karakteristik watak atau sifat teknik bahan hasil pertanian yang berkaitan dengan karakteristik fisik, mekanik dan termis.
B. Tujuan
Tujuan praktikum pengenalan alat adalah untuk mengetahui sifat fisik hasil pertanian (sudut curah, densitas, edible portion, kebundaran, kebulatan).
II.TINJAUAN PUSTAKA
Bahan-bahan hasil pertanian sering mengalami kerusakan baik di lahan maupun dalam proses penanganan pasca panen. Kerusakan-kerusakan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya faktor fisiologis, faktor mekanis, faktor termis, faktor biologis, faktor kimia.
Untuk mengendalikan kerusakan bahan hasil pertanian tersebut, diperlukan pengetahuan tentang karakteristik (watak atau sifat) teknik bahan hasil pertanian yang berkaitan dengan karakteristik fisik, mekanik, dan termal. Selain itu pengetahuan karakteristik bahan diperlukan untuk :
1. Merancang mesin-mesin pengolahan, menentukan bahan atau materinya, pengoperasian dan pengendaliannya.
2. Menganalisis dan menentukan efisiensi dari suatu mesin, maupun proses pengolahan.
3. Mengembangkan produk-produk baru dari tanaman dan hewan.
4. Mengevaluasi serta mengawetkan mutu produk akhir. ( Tim penyusun TPHP, 2005).
Bentuk dan ukuran bahan hasil pertanian merupakan dua karakteristik yang tidak dapat dipisahkan dalam hal objek fisik suatu bahan secara jelas. Ada beberapa criteria yang dapat digunakan untuk menjelaskan bentuk dan ukuran bahan hasil pertanian terhadap benda-benda geometri tertentu.
2.1 Bentuk Acuan
Dalam metode ini, pemerian bahan dilakukan melalui pengamatan terhadap keadaan permukaan dari potongan memanjang dan melintangnya atau mengukur parameter-parameter bahan kemudian membandingkannya dengan bentuk-bentuk yang sudah ada pada bentuk acuan standar (chart
standard).
Dalam bentuk acuan dikenal beberapa istilah yang dapat digunakan untuk memerikan suatu objek. Adapun istiliah dan perian objek dari bentuk acuan, yaitu:
Bentuk Deskripsi
Bundar (round) Menyerupai bentuk bulatan (spheroid)
Oblate Datar pada bagian pangkal dan pusuk atau puncak
Membujur (oblong) Diameter vertikal lebih besar daripada diameter horizontal
Kerucut (conic) Meruncing ke arah bagian puncak
Bujur telur (ovate) Bentuk seperti telur dan melebar pada bagian pangkal
Berat sebelah atau miring (Lopsided) Poros yang menghubungkan pangkal dan puncak tidak tegak lurus melainkan miring
Bujur telur terbalik (obovate) Seperti telur terbalik
Bulat panjang (elliptical) Menyerupai bentuk elips (bulat panjang)
Kerucut terpotong (truncate) Kedua ujungnya mendatar atau persegi
Tidak seimbang (unequal) Separuh bagian lebih besar dari yang lain
Ribbed Pada potongan melintangnya sisi-sisinya menyerupai sudut-sudut
Teratur (regular) Bagian horizontal menyerupai lingkaran
Tidak teratus (irregular) Potongan horizontalnya sama sekali tidak menyerupai lingkaran
2.2 Kebundaran (Roundness)
Kebundaran adalah suatu ketajaman ukuran sudut-sudut dari suatu benda padat. Nilai kebundaran suatu benda berkisar dari 0-1. Apabila nilai kebundaran suatu bahan hasi pertanian mendekati 1, maka bentuk bahan tersebut bundar. Ada beberapa metode untuk mengestimasi kebundaran suatu benda diantaranya adalah :
Roundness (Rd) = clip_image002[8]
Dimana :
Ap = luas permukaan pronyeksi terbesar dalam posisi bebas
Ac = luas permukaan pronyeksi terkecil yang membatasinya
Roundness (Rd) = clip_image004[4]
Dimana :
r = jari-jari kelengkungan
N = Jumlah sudut yang ada
R = Jari-jari lingkaran dalam maksimum
Roundness (Rd) = clip_image006
Dimana :
r = jari –jari kelengkungan tertajam
R = jari-jari rata-rata dari objek
Apabila di asumsikan bahwa volume objek setara dengan triaksial ellipsoid, dan diameter dari lingkaran yang melingkupi setara dengan sumbu terpanjang dari elips, maka diperoleh persamaan:
clip_image008
dimana a, b, c adalah panjang sumbu-sumbu ellipsoid. Berdasar persamaan tersebut, kebundaran adalah rasio dari rata-rata diameter geometris obyek dengan diameter terpanjangnya. Berdasar persamaan lainnya,
kebundaran=di/dc
dimana di adalah diameter terbesar lingkaran dalam, dan dc adalah diameter terkecil dari lingkaran yang melingkupi bundaran (Gb. 4).
Diameter padanan dari suatu obyek yang berbentuk tidak beraturan dinyatakan dengan diameter suatu bundaran yang mempunyai volume sama
clip_image010
dimana G adalah massa (berat) dan γ berat volume dari obyek. Dalam perancangan mesin-mesin penyekala (sizing), adalah penting untuk menyatakan rata-rata proyeksi luasan melintang dari produk yang diukur dari berbagai posisi, seperti pada Gb. 4. Rata-rata luasan proyeksi yang diperoleh dengan cara ini dikaitkan dengan volume obyek dengan persamaan
clip_image012
dimana K=1.21 untuk bundaran dan lebih besar untuk benda benda cembung lainnya. Apabila nilai K mendekati nilai 1.21 maka benda tersebut semakin mendekati bundar. Gambar 5 memperlihatkan hubungan antara Fm dan V untuk wortel, kentang dan lemon.
clip_image014
Gb.4. Penentuan rerata luasan proyeksi melintang produk-produk pertanian
clip_image016
Gb.5. Hubungan antara rerata luas proyeksi dan volume
III.PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan Waktu
Praktikum Mikrobiologi Umum ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Pada Hari Jum’at tanggal 30 September 2011 Pukul 13.00 – 14.30 WIB.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1)Pisau, 2)Mistar, 3)Timbangan analitik. Bahan yang digunakan adalah 1)Wortel, 2) Jewawut, 3) Kacang Hijau, 5) Kacang Tanah, 6) Kacang Kedelai, 7) Jagung Pipil, 8) Beras, 9) Ubi Jalar, 10) Tomat, 11) Bengkoang.12)salak
C. Cara kerja
Cara kerja yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
a. Sudut Curah
1. Buat kerucut dari kertas dengan lubang bawah 1 – 0,5 cm,
2. Biji-bijian dimasukkan ke dalam kerucut,
3. Buka lubang bagian bawah pada jarak 5 cm dari lantai atau landasan lain (pastikan lantai dalam keadaan rata),
4. Diameter curah yang terbentuk diukur (d),
5. Tinggi curahan diukur (t),
6. Sudut curah biji-bijian diukur.
b. Densitas
1. Biji atau kacang ditimbang (a),
2. Biji atau kacang dimasukkan ke dalam gelas ukur, kemudian catat volumenya,
3. Densitas dihitung dengan rumus : berat/volume,
c. Edible Portion
1. Buah/sayur ditimbang (a)
2. Buah dikupas dan sayuran dibuang bagian yang tidak bisa dimakan, kemudian ditimbang (b),
3. Edible portion dihitung dengan rumus :
Edible portion = b/a x 100%
d. Kebundaran
1. Buah dibelah dalam posisi melintang,
2. Ukur diameter bundaran terbesar dan terkecil, kemudian dihitung luas lingkaran dari masing-masing diameter yang sudah diukur,
3. Kebundaran dihitung dengan rumus :
clip_image017Roundness = AP/AC = luas bundaran terkecil yang dapat meliputi seluruh proyeksi biji
luas proyeksi terbesar dari biji
e. Kebulatan
1. Buah dibelah dalam posisi melintang,
2. Ukur diameter bundaran terpanjang (a), terkecil (b), dan jarak dari pusat ke bundaran terdekat (c),
3. Kebulatan dihitung dengan rumus :
clip_image018Sphericity = sumbu biji
sumbu terpanjang
clip_image019clip_image020 = 3√ abc
a
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Dari Praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sabagai berikut :
1. Tabel Sudut Curah

No Produk hasil Pertanian Sudut curah Densitas
1 Kacang Hijau 0,64 0,96
2 Kacang Kedelai 0,09 0,76
3 Kacang Tanah 0,307 0,82
4 Kacang Merah 0,1875 0,87
5 Gabah 0,22 0,64
6 Beras 0,6 1,6
7 Jewawut 0,368 0,85
8 Jagung 0,208 0,82
2. Tabel Edible Portion

No Produk Hasil Pertanian Edible Portion (%)
1 Pir -
2 Sawo 86,4 %
3 Mangga -
4 Salak 85%
5 Bayam 44,11%
6 Kangkung 86%
7 Sawi 72%
8 Kubis 77,66%
9 Wortel 57,14%
10 Kentang 83,3%
3. Tabel Kebundaran dan Kebulatan

No Produk hasil Pertanian Kebulatan Kebundaran
1 Pir -
2 Sawo 0,82 0,5
3 Kentang 0,80 0,11
4 Ubi rambat 0,77 0,11
5 Tomat 0,89 1,088
6 Bengkoang 0,98 0,17
7 Wortel 0,77 0,44
B. Pembahasan
Dalam Praktikum pertama yaitu Sifat Fisik Hasil Pertanian kita akan membahas dan mempelajari tentang sifat fisik beberapa jenis hasil pertanian berupa tanaman serelia, kacang – kacangan dan tanaman holtikultura atau sayuran dan buah buahan. Diantaranya adalah Wortel, Jewawut, Kacang Hijau, Kacang Tanah, Kacang Kedelai,Jagung Pipil, Beras, Ubi Jalar, Tomat, Bengkoang, salak.
Dalam melakukan praktikum untuk menentukan Sudut curah (Sudut yang terbentuk antara bidang datar ke bidang miring) Siapkan sebuah kerucut dari kertas dengan diameter lubang pada ujungnya sebesar 1 – 0,5 cm. Masukkan kacang tanah kedalam kerucut kertas yang sudah dibuat. Jarak antara lubang kerucut dengan dasar alas sebesar 10 cm, ukur diameter curah dan tinggi bahan. Dari percobaan didapatkan hasil yaitu tinggi kacang tanah 2cm,dan diameternya 13cm sehingga dapat diketahui bahwa sudut curah kacang tanah adalah 0,307, sedangkan untuk kacang merah diketahui bahwa tingginya adalah 15cm dan diameternya 16 cm sehingga didapatkan sudut curah kacang merah sebesar 0,1875.
Untuk mencari densitas kita harus menimbang masing – masing berat kacang merah dan kacang tanah dengan menggunakan neraca, kemudian ukur volumenya dengan menggunakan gelas ukur. Didapatkan hasil bahwa volume kacang tanah 610 ml,dan volume kacang merah 570 ml sedangkan beratnya sama yaitu 500 g. Sehingga dapat diperoleh bahwa densitas kacang tanah 0,82 dan densitas kacang merah 0,87.
Untuk mengetahui edible portion kita hanya menimbang bahan yang akan cari EP nya. Dari percobaan ini didapatlah massa salak yang pertama yaitu 100 g, dan massa setelah dibersihkan yaitu 85 g ,sehingga edible portion dari salak dapat diketahui yaitu 85%. Sedangkan massa kubis yang pertama adalah 850 g dan massa kubis setelah dibersihkan adalah 660 g sehingga didapat Edible portion kubis sebesar 77,66%.
Kebundaran adalah suatu ketajaman ukuran sudut-sudut dari suatu benda padat. untuk menentukan kebundaran belah buah tomat dengan posisi melintang. Ukur diameter terbesar dan terkecil bundaran, setelah didapatkan diameter hitung luas masing – masing lingkaran. Luas masing – masing lingkaran digunakan untuk menentukan kebundaran tomat yaitu sebesar 1,088. Dalam menentukan Ap dan Ac harus benar-benar teliti, karena semakin teliti maka tingkat kebenaran dari nilai roundness dari suatu bahan akan semakin tingi juga.
Dalam menentukan kebulatan atau sphericity dari bahan yang paling di perhatikan adalah dalam menentukan harga koefisien b dan c, dimana dalam hal ini nilai dari koefisien c harus selalu lebih kecil dari koefisien b jadi walaupun kita mengira bahwa nilai perhitungan kita adalah b tetapi ketika kita menngukur lagi tetapi nilai yang kita ukur adalah lebih kecil maka asumsi pertrama nilai c menjadi nilai b. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai dari sphericity bahan tomat adalah sebesar 0,89.
V.KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Bahan-bahan hasil pertanian sering mengalami kerusakan baik di lahan maupun dalam proses penanganan pasca panen.
2. Kebundaran adalah suatu ketajaman ukuran sudut-sudut dari suatu benda padat. Nilai kebundaran suatu benda berkisar dari 0-1.
3. Dalam menentukan kebulatan atau sphericity dari bahan yang paling di perhatikan adalah dalam menentukan harga koefisien b dan c,
4. Yang membedakan antara roundness dan sphericity adalah dimana roundness itu 2 dimensi atau bundarnya bahan sedangkan sphericity itu 3 dimensi atau kemiripan dengan bola.
5. Sudut curah adalah sudut yang terbentuk antara sisi miring dan bidang datar.
6. Densitas dapat ditentukan dengan cara membandingkan massa dan volume.
DAFTAR PUSTAKA
Akhir: Penelitian koleksi, karakterisasi, dan konservasi plasma nutfah serealia. Litbang Pertanian, 49 hal (Tidak dipublikasikan).
Andoko, Agus. 2001. Bertanam millet untuk pakan burung. PT. Penebar Swadaya. Jakarta. 61 halaman.

Fitriani, Dini. Laporan Praktikum 1 – karakteristikFisik.2011.(online)

(http://www.scribd.com/doc/54134346/Laporan-Praktikum-1-Karakteristik-Fisik, diakses tanggal 13oktober 2011)

Silaban, Jansen Bernard. Karakteristik Fisik Bahan Hasil Pertanian (online).

(http://jansenbernard.wordpress.com/2010/06/16/laporan-praktikum-teknik-penanganan-hasil-pertanian-karakteristik-fisik-bahan-hasil-pertanian-bentuk-dan-ukuran/, diakses tanggal 13 oktober 2011 )

Syarief R. dan A. Irawati, 1988, Pengetahuan Bahan untuk Industri Pertanian, Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta
Lampiran
Perhitungan:
1. Sudut Curah
a. Sudut curah Kacang Tanah
Tinggi Kacang Tanah = 2 cm
Diameter Kacang Tanah = 13cm
Sudut curah Kacang Tanah = clip_image022
clip_image024
= 0,307o
b. Sudut curah Kacang Merah
Tinggi Kacang Merah = 1,5 cm
Diameter Kacang Merah = 16cm
Sudut curah Kacang Merah = clip_image022[1]
clip_image026
= 0,1875o
2. Densitas Kacang merah dan kacang tanah
a. kacang merah
Berat kacang merah = 500 g
Volume Kacang merah = 570 mL
Densitas Kacang merah = clip_image028
= clip_image030
= 0,87 g/ml
b. Densitas Kacang tanah
Berat Kacang tanah = 500 g
Volume kacang tanah = 610 mL
Densitas Kacang tanah = clip_image028[1]
= clip_image032
= 0,82 g/ml
3. Edible portion sayur dan buah
a. Sayur Kubis
Berat awal (a) = 850 g
Berat sisa (b) = 660 g
EP = clip_image034
= clip_image036
= 77,66%
b. Buah salak
Berat awal (a) = 100 g
Berat sisa (b) = 85 g
EP = clip_image034[1]
= clip_image038
= 85%
4. Kebulatan dan kebundaran
a. kebundaran
AP = 4,56
AC = 4,19
Roundeness clip_image040
clip_image042
= 1,088
b. kebulatan
a = 4,26
b =4,25
c =4,19
Sphericity clip_image044
=clip_image046
= clip_image048
= 0,89
Lampiran
Perhitungan:
1. Sudut Curah
a. Sudut curah Kacang Tanah
Tinggi Kacang Tanah = 2 cm
Diameter Kacang Tanah = 13cm
Sudut curah Kacang Tanah = clip_image022[2]
clip_image024[1]
= 0,307o
b. Sudut curah Kacang Merah
Tinggi Kacang Merah = 1,5 cm
Diameter Kacang Merah = 16cm
Sudut curah Kacang Merah = clip_image022[3]
clip_image026[1]
= 0,1875o
2. Densitas Kacang merah dan kacang tanah
a. kacang merah
Berat kacang merah = 500 g
Volume Kacang merah = 570 mL
Densitas Kacang merah = clip_image028[2]
= clip_image030[1]
= 0,87 g/ml
b. Densitas Kacang tanah
Berat Kacang tanah = 500 g
Volume kacang tanah = 610 mL
Densitas Kacang tanah = clip_image028[3]
= clip_image032[1]
= 0,82 g/ml
3. Edible portion sayur dan buah
a. Sayur Kubis
Berat awal (a) = 850 g
Berat sisa (b) = 660 g
EP = clip_image034[2]
= clip_image036[1]
= 77,66%
b. Buah salak
Berat awal (a) = 100 g
Berat sisa (b) = 85 g
EP = clip_image034[3]
= clip_image038[1]
= 85%
4. Kebulatan dan kebundaran
a. kebundaran
AP = 4,56
AC = 4,19
Roundeness clip_image040[1]
clip_image042[1]
= 1,088
b. kebulatan
a = 4,26
b =4,25
c =4,19
Sphericity clip_image044[1]
=clip_image046[1]
= clip_image048[1]
= 0,89

No comments:

apa yang anda cari ?